Minggu, 22 Mei 2011

PERHITUNGAN BAKTERI DENGAN METODE HITUNGAN CAWAN


I. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Mikroorganisme adalah makhluk yang sangat kecil dan hanya dapat dilihat dibawah mikroskop. Salah satu jenis mikroorganisme adalah bakteri. Bakteri merupakan organisme uniselular yang tumbuh dengan cara pembelahan biner yaitu satu sel membelah secara simetris. Untuk mempermudah penghitungan koloni diperlukan pengetahuan mengenai morfologi bakteri tersebut sehingga media pertumbuhan yang akan digunakan sesuai dengan sifat bakteri tersebut. Kehadiran mikrobia pada makanan dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Ada hasil metabolisme spesies mikrobia tertentu pada makanan dibutuhkan dan digemari oleh manusia. Analisis kuantitatif mikrobiologi pada bahan pangan penting dilakukan untuk mengetahui mutu bahan pangan, dan proses yang akan diterapkan pada bahan pangan tersebut. Ada beberapa cara untuk mengukur atau menghitung mikrobia yaitu dengan perhitungan jumlah sel, perhitungan massa sel secara langsung, dan pendugaan massa sel secara tak langsung. Perhitungan jumlah sel dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu dengan hitungan mikroskopik, MPN (Most Probable Number), dan hitungan cawan. Dari ketiga metode tersebut metode hitungan cawan paling banyak dan mudah digunakan. Oleh karena itulah, pada acara praktikum mikrobiologi dasar untuk perhitungan koloni kali ini menggunakan metode hitungan cawan (Fardiaz, 1989).

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari cara melakukan pengenceran serial dan menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel dengan metode hitungan cawan.






II. METODOLOGI

2.1     Waktu dan Tempat
          Praktikum Dasar-Dasar Mikrobiologi Akuatik dengan judul perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 27 April 2011 pukul 12.15-14.30 WIB. Sementara sesi pengamatan hasil praktikum dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 28 April 2011 pukul 14.00-15.00 WIB. Kedua sesi praktikum dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

2.2     Alat dan Bahan
          Peralatan yang digunakan dalam praktikum kali ini terdiri dari tabung reaksi, rak tabung reaksi, bulp, pipet 1 ml steril, cawan petri kosong steril, dan batang penyebar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp., media SWC cair bersuhu 50oC, larutan fisiologis (0.85% NaCl), dan alkohol 70%.

2.3  Prosedur Kerja
          2.3.1 Pengenceran Bakteri
Pertama yang akan dilakukan terlebih dahulu yaitu sterilisasi lingkungan dengan alkohol 70% yang disemprotkan pada meja dan tangan praktikan. Lalu  tabung berisi suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dengan faktor pengenceran 10-5 dan tabung reaksi berisi medium SWC steril bersumbat dipegang dengan tangan kiri. Setelah itu bulb dipasang di pangkal pipet 1 ml, lalu pipet dipegang dengan tangan kanan. Penutup tabung berisi suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dibuka dengan tangan kanan. Mulut pipet dilewatkan di atas api, lalu ujung pipet 1 ml dimasukkan secara perlahan ke dalam tabung. Cairan di dalam tabung kemudian disedot secara pelan-pelan dengan menekan huruf S hingga mencapai 0.1 ml. Mulut pipet harus dipastikan terendam dalam cairan ketika miniskus telah menunjuk skala yang diinginkan pipet diangkat dari tabung, lalu tutup dipasangkan kembali. Tabung reaksi yang berisi medium SWC steril dibuka dengan kelingking tangan kanan. Ujung pipet dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditempelkan pada dinding dalam tabung. Cairan dikeluarkan dengan menekan huruf E pada bulb. Terakhir semua cairan keluar, pipet dikeluarkan secara perlahan. Mulut tabung lalu dilewatkan di atas bunsen dan disumbat kembali dengan kapas. Tabung hasil pemindahan tersebut merupakan larutan suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dengan faktor pengenceran 10-5. Prosedur yang samadiulangi agar diperoleh tabung berisi larutan suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dengan faktor pengenceran 10-5.

2.3.2  Metode Cawan Tuang
Pertama yang akan dilakukan terlebih dahulu yaitu alkohol 70% yang disemprotkan pada meja dan tangan praktikan. Sampel sebanyak 0.1 ml dipipet dari masing-masing larutan suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dengan faktor pengenceran 10-5, 10-6, dan 10-7. Sampel dari masing-masing tabung dimasukkan ke dalam cawan petri. Media SWC cair bersuhu 50oC sebanyak 12 ml dimasukkan ke dalam masing-maing cawan petri. Kemudian campuran sampel dan media digoyangkan secara pelan-pelan sampai tercampur merata. Campuran dibiarkan hingga padat kemudian diletakkan secara terbalik untuk diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam.

2.3.2  Metode Cawan Tebar
Pertama yang akan dilakukan terlebih dahulu yaitu sterilisasi lingkungan dengan alkohol 70% yang disemprotkan pada meja dan tangan praktikan. Kemudian sampel sebanyak 0.1 ml dipipet dari masing-masing larutan suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. dengan faktor pengenceran 10-5, 10-6, dan 10-7. Sampel dari masing-masing tabung dimasukkan ke dalam cawan petri berisi media SWC padat. Sampel kemudian disebar merata di atas agar dengan batang penyebar. Terakhir cawan diletakkan secara terbalik untuk diinkubasi pada suhu kamar selama 24 jam.



III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Berikut ini merupakan tabel hasil pengamatan perhitungan bakteri dengan metode hitungan cawan.
Tabel 1. Hasil pengamatan perhitungan bakteri
Hasil Kelompok
Metode

10-3 cfu/ml
10-4 cfu/ml
10-5 cfu/ml
Keterangan
10-3
10-4
10-5
VII
Cawan Tuang
TBUD
1,52 x 107
TBUD
-
-
-

Cawan Sebar
TBUD
2,5 x 105
5,2 x 104
-
-
-
VIII
Cawan Tuang
0
TBUD
0
-
-
-

Cawan Sebar
TBUD
TBUD
31 x 106
-
-
-
IX
Cawan Tuang
TBUD
74 x 105
0
-
-
+

Cawan Sebar
TBUD
TBUD
0
-
-
+
X
Cawan Tuang
134 x 104
24 x 105
13 x 106
+
+
+

Cawan Sebar
TBUD
TBUD
9 x 106
-
-
+
XI
Cawan Tuang
0
0
0
-
+
-

Cawan Sebar
0
0
3,3 x 105
-
-
+
XII
Cawan Tuang
TBUD
291 x 105
0
-
+
-

Cawan Sebar
218 x 104
0
0
+
-
-
Keterangan :
+ : Kontaminan      -  : Tidak kontaminan         TBUD  :  Tidak bias untuk dihitung
   Berdasarkan data yang tercantum pada tabel 1 dapat diinterpretasikan bahwa jumlah bakteri yang dapat dihitung dan paling banyak pada cawan sebar yaitu pada kelompok XII dengan jumlah 218 x 104 cfu/ml. Sementara jumlah bakteri pada cawan tuang, rata-rata menghasilkan jumlah koloni tidak bisa untuk dihitung.
Contoh perhitungan :
                        291 x 1/105 x 1/ 0,1  = 291 x 105
                                218 x 1/104 x 1/ 0,1  = 218 x 104

3.2 Pembahasan
   Pseudoalteromonas sp. merupakan jenis bakteri yang hidup di perairan laut sehingga memerlukan medium SWC untuk pembuatan kulturnya. Merujuk pada Garrity (2004) sampai saat ini genus Pseudoalteromonas diketahui beranggotakan 21 spesies. Pada umumnya hidup di air laut dan kebanyakan berupa bakteri gram negatif. Anggota genus ini menempati berbagai peran dalam ekosistem laut. Peran tersebut antara lain sebagai parasit obligat (patogen), probiotik, bahkan agen bioremediasi. Taksonomi Pseudoalteromonas sp. menurut Garrity (2004) adalah sebagai berikut :
Kingdom         : Bacteria        
Phylum            : Proteobacteria          
Kelas               : Gamma Proteobacteria         
Ordo                : Alteromonadales      
Famili              : Alteromonadaceae   
Genus              : Pseudoalteromonas
Spesies            : Pseudoalteromonas sp.
   Sementara kondisi fisik dibutuhkan agar pertumbuhan dan perkembangan bakteri dapat terjadi secara optimum. Setiap bakteri menunjukkan respon yang berbeda terhadap kondisi fisik. Artinya, setiap bakteri memiliki kondisi fisik optimum yang berbeda-beda. Beberapa parameter fisik yang paling mempengaruhi kehidupan bakteri diantaranya adalah suhu, komposisi gas, dan pH. Selain faktor tesebut terdapat pula beberapa faktor fisik lain yang cukup berpengaruh misalnya cahaya dan salinitas. Suhu optimum bagi pertumbuhan Pseudoalteromonas sp. sangat beragam dan tergantung kepada spesies. Mikhaloiv (2006) menyatakan bahwa semua spesies dalam genus Pseudoalteromonas mampu tumbuh pada suhu 20–25oC. Kebanyakan spesies mampu tumbuh pada suhu 4oC. Penelitian Bowman (1998) dalam Mikhaloiv (2006) memperlihatkan bahwa P. Prydzensis mampu hidup pada suhu 0 sampai 30oC.
Metode hitungan cawan dilaksanakan dengan mengencerkan sampel suspensi bakteri Pseudoalteromonas sp. kedalam larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %. Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikrobia per ml, per gr, atau per cm permukaan (Fardiaz, 1993). Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah meikrobia, dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung (Waluyo, 2004). Larutan yang digunakan untuk pengenceran harus memilki sifat osmotik yang sama dengan keadaan lingkungan asal mikrobia untuk menghindari rusaknya sel, selain itu juga harus dijaga agar tidak terjadi perbanyakan sel selama pengenceran. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya kegagalan adalah kesalahan dalam prosedur pengenceran misalnya mengambil terlalu banyak atau terlalu sedikit bakteri dari larutan suspensi awal. Kesalahan lain yang mungkin terjadi adalah akibat larutan suspensi yang kurang homogen sehingga jumlah bakteri yang terambil tidak mewakili populasi bakteri yang ada. Selain dua faktor tersebut, faktor penyebab kegagalan secara umum dapat disebabkan oleh persyaratan tumbuh yang kurang cocok maupun akibat kontaminasi. Kontaminasi menyebabkan bakteri kultur tidak tumbuh secara optimum pada media
Selain menggunakan larutan garam fisiologi (NaCl) 0,85 %, pengenceran juga dapat dilakukan dengan menggunakan larutan fosfat buffer, larutan Ringer, atau akuades. Namun penggunaan akuades sebaiknya dihindari karena dapat mengakibatkan rusaknya sel akibat perbedaan tekanan osmotik, karenanya pelaksanaan pengencerannya harus cepat. Kedalam larutan pengencer juga dapat ditambahkan butir-butir gelas (glass beads) atau pasir putih yang disterilisasi bersama dengan larutan tersebut untuk melarutkan bahan yang sukar larut. Pengenceran yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pengenceran desimal yaitu 10-1, 10-2, 10-3, 10-4 dan 10-5. Dan yang diplating dan diamati adalah pengenceran 10-3, 10-4, dan 10-5. Hal ini karena diperkirakan koloni yang terbentuk oleh Pseudoalteromonas sp. berada pada jumlah yang dapat dihitung pada pengenceran tersebut. Selain itu, perhitungan jumlah koloni akan lebih mudah dan cepat jika pengenceran dilakukan secara decimal (Waluyo, 2004).
Prinsip perhitungan koloni bakteri adalah semakin tinggi tingkat pengenceran semakin rendah jumlah koloni bakteri. Dengan kata lain tingkat pengenceran berbanding terbalik dengan jumlah koloni bakteri. Berdasarkan hasil pengamatan perhitungan koloni bakteri Pseudoalteromonas sp dari kelompok XII hasil perhitungannya menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran semakin sedikit jumlah bakteri. Namun pada perhitungan koloni bakteri Pseudoalteromonas sp kelompok XII mengalami kegagalan, karena jumlah bakteri berbanding lurus dengan tingkat pengenceran. Hal ini disebabkan terjadinya kontaminan yang berasal dari alat yang digunakan, praktikan ataupun udara. Selain itu bisa juga disebabkan oleh kurangnya kecermatan dan ketelitian praktikan baik dalam proses praktikum ataupun perhitungan.















IV. KESIMPULAN  DAN  SARAN

4.1 Kesimpulan
            Pengenceran merupakan salah satu faktor yang penting dalam penghitungan koloni. beberapa cawan yang tidak ditumbuhi bakteri, koloni kurang dari 30 (dianggap 0), dan beberapa lainnya ditumbuhi koloni lebih dari 300 (TBUD).

4.2 Saran
          Praktikum selanjutnya diharapkan dapat dilaksanakan dengan menggunakan jenis bakteri yang lebih beragam dan proses praktikum dilakukan dengan lebih aseptik untuk mengurangi kontaminan agar data yang didapat lebih akurat. sehingga data hasil perhitungan dapat menghasilkan yang lebih baik.



















DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo Persada; Jakarta.

Garrity MG, Bell JA, dan Lilburn TG. 2004. Taxonomic Outline of The Prokaryotes: Bergeys Manual of Systematic Bacteriology Second Edition. New York: Springer.

Mikhailov VV, Romanenko LA, dan Ivanova EP. 2006. The genus Alteromonas and related Proteobacteria. Prokaryotes 6:597-645.

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press; Malang.



           

1 komentar: